<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dunia tumbuh kembang anak</title>
	<atom:link href="http://dongenganak.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dongenganak.wordpress.com</link>
	<description>dongeng anak, tumbuh kembang, cerita motivasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Nov 2011 15:47:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dongenganak.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dunia tumbuh kembang anak</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dongenganak.wordpress.com/osd.xml" title="Dunia tumbuh kembang anak" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dongenganak.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Mencintai Tanpa Syarat</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2011/10/31/ketika-mencintai-tanpa-syarat/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2011/10/31/ketika-mencintai-tanpa-syarat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 00:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[didik anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[anak sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[cara mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anakanak istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Setiap makhluk hidup dianugerahi perasaan cinta dan kemudian akan dicintai juga. Cinta mampu mewarnai dunia ini sehingga generasi manusia bertumbuh dan lestari. Anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi pengganti yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan cinta dunia menjadi lebih berwarna. Cinta adalah energy yang menggerakkan kemajuan, berkorban, ketabahan bahkan keuletan. Apa yang menggerakkan seekor induk burung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=44&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dongenganak.files.wordpress.com/2011/10/babybirds_miller_061705.jpg"><img class="size-full wp-image-45 alignnone" title="BabyBirds_Miller_061705" src="http://dongenganak.files.wordpress.com/2011/10/babybirds_miller_061705.jpg?w=535" alt=""   /></a><br />
Setiap makhluk hidup dianugerahi perasaan cinta dan kemudian akan dicintai juga. Cinta mampu mewarnai dunia ini sehingga generasi manusia bertumbuh dan lestari. Anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi pengganti yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan cinta dunia menjadi lebih berwarna.</p>
<p>Cinta adalah energy yang menggerakkan kemajuan, berkorban, ketabahan bahkan keuletan. Apa yang menggerakkan seekor induk burung kenari yang mengerami empat butir telor di sarang selama kurang lebih 21 hari. Kemudian anak-anak mungil kenari menetas menjadi 4 bayi kenari yang imut sekaligus ringkih.</p>
<p>Sang bunda kenari, bangun di pagi yang buta, sudah berpayah mengupas biji-bijian, dedaunan dan makanan lainnya untuk disuap buat empat bayi mungil yang mulutnya tidak pernah berhenti bercericit, mulut yang terus terbuka walaupun matanya masih tertutup. Rutinitas tanpa lelah, tanpa henti dari pagi sampai petang, coba kita bayangkan betapa repotnya sang bunda kenari.</p>
<p>Kenari kecil yang baik hati tanpa lelah merawat anak-anaknya sampai dewasa, adakah keluhan dengan segala kekurangan sang anak-anak, tampaknya tidak pernah, karena ia mencintai anak-anaknya apa adanya, ditumpahkan semua usaha dan kasih sayang kepada anak anaknya.</p>
<p>Cinta tanpa syarat kita terhadap anak-anak mungil buah hati akan membuat kita tak pernah mensyaratkan, namun semangat menjaga amanah, mendidik dan segalanya dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah ada kecewa dengan kondisi anak kita, yang mungkin belum berprestasi secara akademis misalnya, atau kekurangan lainnya yang membuat kita kadang merasa minder, “<em>kok anakku sebegininya sih”.<br />
</em></p>
<p>Anak adalah kertas putih yang akan menjadi apa saja, baik dan buruk. Tugas orang tua untuk memberi warna-warna terbaik sehingga kertas tersebut menjadi lukisan mahakarya yang tak ternilai harganya.<br />
Proses mendidik, mengasuh anak adalah sebuah proses panjang, jangan pernah menyerah dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada anak-anak kita, justru kekurangan itu adalah tantangan kita untuk terus belajar, menemukan pola asuh yang sesuai dengan anak kita. Karena sesungguhnya anak kita adalah anugerah terindah dan teristimewa. Jadi jangan ada syarat untuk cinta kita pada buah hati tercinta.( Warsito Suwadi)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=44&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2011/10/31/ketika-mencintai-tanpa-syarat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongenganak.files.wordpress.com/2011/10/babybirds_miller_061705.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BabyBirds_Miller_061705</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pipo, Pipit Kecil yang tersesat 3</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2011/01/12/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat-3/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2011/01/12/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 03:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[didik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak mulia]]></category>
		<category><![CDATA[anak cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng sehat]]></category>
		<category><![CDATA[emotional]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[tumbuh kembang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[by Warsito Suwadi Semalaman Pipo terjebak di dalam hutan yang gelap dan dingin. Tanpa di temani Pipi, ayah dan ibu tercinta. Pipo diliputi dengan ketakutan dan kedinginan. Pipo tak dapat tidur sekejappun, ia hanya mampu berdoa semoga malam cepat menjadi pagi, agar ibu dan ayah dapat menemukannya kembali. Pipo berdoa pada Allah agar ia selamat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=40&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dongenganak.files.wordpress.com/2011/01/pipit.jpg"><img src="http://dongenganak.files.wordpress.com/2011/01/pipit.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" title="pipit" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-41" /></a></p>
<p>by Warsito Suwadi</p>
<p>Semalaman Pipo terjebak di dalam hutan yang gelap dan dingin. Tanpa di temani Pipi, ayah dan ibu tercinta. Pipo diliputi dengan ketakutan dan kedinginan. Pipo tak dapat tidur sekejappun, ia hanya mampu berdoa semoga malam cepat menjadi pagi, agar ibu dan ayah dapat menemukannya kembali. Pipo berdoa pada Allah agar ia selamat dari segala binatang buas yang mencari makan di malam ini.<span id="more-40"></span></p>
<p>Pipo menyesal, sebab tak menuruti nasehat ibu, agar tidak terbang jauh-jauh dari ibu. Pipo baru bisa terbang dan belum pintar, namun karena terlalu asyik mengepakkan sayap menikmati udara dan pemandangan hutan yang menakjubkan sehingga tanpa terasa Pipo terbang dan menjauh dari ibu. </p>
<p>Walau ibu tak pernah lepas pengawasannya terhadap Pipo namun ibu lengah juga saat mengejar serangga. Sementara Pipo mengikuti angin yang berhembus lembut, sampai pada saat langit makin gelap karena mendung dan menjelang malam. Pipo panik, ia berusaha mengingat jalan yang dilalui namun gagal.</p>
<p>Riuh suara burung dan kokok ayam hutan riuh menyambut matahari yang semburat merahnya masih sangat samar di ufuk timur, hati Pipo sangat girang, sebentar lagi ibu dan ayah akan mencarinya, dan pasti menemukannya. </p>
<p>Matahari makin memerah di ufuk timur. Ibu dan Ayah bergegas terbang meninggalkan sarang untuk pergi mencari pipo. Ayah dan ibu pergi ke tempat terakhir waktu berpisah dengan Pipo. Ayah terakhir di sini Ibu dan Pipo berpisah. “ Ayah coba cari Pipo ke sebelah utara, sedang Ibu ke sebelah selatan, semoga Pipo cepat ditemukan ya Yah, Amin Ibu. Terbanglah mereka kearah utara dan selatan sambil memanggil nama Pipo. “Pipo, Pipo di manakah kau nak, ayah dan ibu mencari mu.</p>
<p>Dengan hati-hati tiap sudut hutan di cari, mereka takut bila Pipo terluka dan jatuh sampai kondisi yang parah. Ayah dan Ibu terus menyisir hutan sambil memanggil Pipo.</p>
<p>Pipo berusaha terbang dengan mengepak-kepakkan sayapnya biar kering dan mampu terbang kembali, biar memudahkannya ayah dan ibu  menemukannya.</p>
<p>Sayup-sayup telinga Pipo mendengar teriakan Ayah, hatinya senang sekali, Pipo meloncat, Pipo mengepakkan sayapnya dengan keras, karena tidak seimbang Pipo jatuh terjengkang, namun Pipo tak merasakan kesakitan, Pipo segera abngkit kembali. Inilah saat yang ditunggu-tunggu.<br />
Dengan suara lantang Pipo berteriak ”Ayah Pipo disini”. Sekali lagi Pipo berteriak menyambut panggilan Ayah.<br />
 Ayah mendengar teriakan Pipo dan dengan cepat ayah terbang menuju tempat Pipo bertengger. </p>
<p>Pipo menjadi riang bukan kepalang demikian juga ayah,. Alhamdulillah, kau selamat nak, kata ayah. Pipo tak mampu berkata-kata, namun hatinya sangat bahagia sekali karena masih selamat dan masih mempunyai kesempatan berkumpul kembali dengan ayah, ibu dan Pipi kembali.</p>
<p>Tak berapa lama ibu terbang menghampiri Pipo dan ayah, senyum ibu mengembang menyambut Pipo, Pipo mendekati ibu, dengan senyum mengembang Pipo memeluk ibu, air mata ibu dan pipo tumpah. </p>
<p>Alhamdulillah nak kau masih selamat, ibu dan ayah sangat mencemaskanmu demikian juga Pipi, ”Ibu maafkan Pipo bu,  yang tak menghiraukan nasehat ibu, dan lalai sehingga Pipo tersesat.<br />
Tidak apa-apa nak, yang penting lain kali jangan pernah diulang kembali.</p>
<p>Akhir bertiga anak, ibu, dan ayah terbang beriringan dengan hati yang bahagia, sebab mereka dikumpulkan kembali, mereka bergegas pulang ke sarang untuk mensyukuri keselamatan Pipo bersama Pipi yang tentunya masih cemas menunggu.<br />
Abi Saif &amp; Salwa 11-20 07</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=40&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2011/01/12/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongenganak.files.wordpress.com/2011/01/pipit.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku adalah Rumput</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2009/11/13/aku-adalah-rumput/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2009/11/13/aku-adalah-rumput/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 07:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi rumput di keluasan padang yang menghampar. Dengan hijaunya dan tebaran hewan-hewan yang merumput untuk memenuhi hajat kehidupan. Di atasmu mereka berbiak, bergembira, mencari makan dan mereka mengotorimu. Menginjak-injak dan kemudian meninggalkanmu ketika kau sudah tak subur, kering bahkan sekarat mendekati kematian. Namun kebahagian apa yang paling berharga bagi rumput kalau tidak atas kemanfaatannya. Menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=29&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://dongenganak.files.wordpress.com/2009/11/grass.jpg?w=300&#038;h=200" alt="grass" title="grass" width="300" height="200" class="alignnone size-medium wp-image-30" /></p>
<p>Menjadi rumput di keluasan padang yang menghampar. Dengan hijaunya dan tebaran hewan-hewan yang merumput untuk memenuhi hajat kehidupan. Di atasmu mereka berbiak, bergembira, mencari makan dan mereka mengotorimu. Menginjak-injak dan kemudian meninggalkanmu ketika kau sudah tak subur, kering bahkan sekarat mendekati kematian.<span id="more-29"></span></p>
<p>Namun kebahagian apa yang paling berharga bagi rumput kalau tidak atas kemanfaatannya. Menjadi rantai pertama energi yang kemudian mengalir sampai puncak rantai makanan yaitu pada hewan-hewan predator. Dari rumput irama kehidupan dimulai sampai semua kembali lagi menghampiri dalam sebuah ajal ketika tiba merenggut. Terus bermanfaat, memancarkan tiap hari, tiap detik dan pada setiap hembusan nafas makhluk yang melata di muka bumi. Tidak ada kata terkira inilah pengabdian yang terindah dan teragung yang pernah kau berikan.</p>
<p>Kemudian musim kering yang tandus menghantam. Dengan halus kau usir hewan-hewan untuk meninggalkanmu agar mencari tempat yang lebih baik dan menjanjikan. Bukan pada padangmu, bukan pada dirimu. Karena kau tak akan pernah ingin berbagi penderitaan dengan mereka. Cukup kau tanggung sendiri.<br />
Lalu jilatan api melumatkan tubuh-tubuh kurus keringmu. Dengan hembusan angin sepoi yang bersorai, memanasi api hingga dengan cepat membesar, kemudian menghanguskan seluruh tubuhmu. Akhirnya hanya meninggalkan puing-puing jelaga yang hitam. </p>
<p>Suasana kesenduan tanpa kehidupan yang membalut luka terbakar, seakan semua kenangan indah terhapus hangus dalam pori-pori tanah yang panas terpanggang api dan teriknya matahari. Namun kau belum mati.</p>
<p>Dalam ketakzimannya rumput-rumput tentu tak berdosa, namun pengabdian dan doa-doanya terus meluncur sepanjang waktu atas karunia yang dilimpahkan untuk dirinya. Karunia teragung yaitu kehidupan itu sendiri, &#8220;Ya Rabb, hidupkan generasi pengganti kami dari akar-akar hamba yang sengaja kau selamatkan di pori-pori bumi agar terselamatkan dari amukan api yang telah menjadikan tubuh-tubuh kami sebagai pupuk untuk generasi kami mendatang. Jadikanlah generasi penggantiku adalah generasi yang kau cintai dan hanya mencintaiMu. Karena sebuah kemuliaan yang tiada tara selain sebuah kecintaan padaMu dan kemanfaatan dari kami yang dapat dipetik dari makhlukMU yang melata di muka bumi ini&#8221;.</p>
<p>Syahdan, bergulung-gulung mendung hitam membawa kabar baik untuk semua kehidupan di bumi. Bersama tercurahnya hujan, sang akar rumput bercucuran berlinang air mata kesyukuran. Dengan hujan, bumi dibasahi dan dilunakkan air yang menggenangi danau-danau, kubangan-kubangan dan relung-relung hati yang senantiasa kering dari tetesan air keindahan dan kasih sayang. Sang rumput bangkit dengan tunas-tunas yang baru, kemudian akar semakin sibuk mengumpulkan zat-zat kehidupan yang telah diwariskan generasi sebelumnya. &#8220;Aku akan lebih baik dari pendahuluku&#8221;, tekad sang rumput muda, akan kuundang semua makhluk hidup dengan ranumnya tubuhku yang takkan habis dimakan. Namun akan senantiasa tumbuh dengan kehijauan lagi lezat di mulut makhluk yang memamahnya. Sampai semua kehidupan ini secara berantai termakmurkan karena hijaunya tubuhku. </p>
<p>Sang rumput muda tumbuh dengan gemuk dan kehijauannya. Menyimpan gizi yang tinggi tiada tara bagi makhluk-makhluk pemamah biak. Demikian juga sang akar menyesap dengan bergairahnya semangat kehidupan yang diwariskan pendahulunya, untuk menyediakan semua kebutuhan gizi bagi sang rumput muda.</p>
<p>Kehidupan di padang telah pulih kembali, bersamaan dengan binatang-binatang yang dulu mengungsi saat kemarau dan kebakaran melanda. Dengan keletihan dan tubuh kurus, hewan-hewan tersebut bersua kembali dengan telaga kehidupan padang rumput yang sungguh tak terkira sebelumnya. Mata-mata berbinar penuh kesyukuran, karena Allah telah menyediakan rizki yang tak terkira baginya. Rumput-rumput ranum hijau yang menyegarkan pandangan, menguatkan dan menggemukkan. Seakan mereka sudah kenyang walau hanya memandangnya saja. Kehidupan di padang itu menjadi hidup dan lebih hidup lagi.</p>
<p>Sang rumput berlinang air mata, bukan karena kesedihan, namun karena Allah telah menghamparkan amanah baginya, dan air mata itu adalah kesyukuran atas amanah yang ditunaikannya.<br />
Syahdan, angin kemarau yang tandus dan kering menggulung, mengabarkan bagi seluruh kehidupan untuk bergerak ataupun bertahan. Kemudian hewan-hewanpun berhijrah meninggalkan padang untuk bertahan ke tempat yang lebih baik. Ketika semua telah mengungsi maka berlahan-lahan, tubuh sang rumput mengering disapu oleh angin kemarau yang menyedot air dalam tubuh-tubuh renta yang berlumuran dengan pengabdian yangh tak akan ternilai oleh apapun. Dengan keikhlasan dan keridhoan Rabbnya jiwa itu akan berlabuh di keridhoaan Rabb-nya. Namun ada satu yang tak terlupa dari mulut sang rumput, &#8221; Ya Tuhanku ijinkanlah hambaMu untuk memanjatkan doa; &#8220;Jadikanlah generasi penggantiku adalah generasi yang mencintai dan Engkau cintai ya Rabb, generasi pengganti kami yang lebih baik dari kami&#8221;. Dengan cucuran linang air mata sang rumput menuntaska doanya, dan dengan keikhlasan dan keridhoaan dari Sang Rabb ajalnya dilabuhkan ke sisi keridhoaanNya. Angin berhembus kehilangan, demikian panas terik matahari meratapi kepergian sebuah pengabdian. Namun semua mempunyai penuntas, semuanya mempunyai keberakhiran, semuanya mesti dipergantikan. wallahu&#8217;alam bishshowab. (warsito suwadi)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=29&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2009/11/13/aku-adalah-rumput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongenganak.files.wordpress.com/2009/11/grass.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">grass</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Marahi dia dengan kasih sayang</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2009/03/24/marahi-dia-dengan-kasih-sayang/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2009/03/24/marahi-dia-dengan-kasih-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 03:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[didik anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Memarahi anak? Mau tak mau dalam waktu tertentu harus kita lakukan, namun setiap ada perselisihan dan ketidakcocokan prilaku anak tidak harus diselesaikan dengan memarahinya. Biasakan bernegosiasi dengan anak, agar kelak anak mempunyai kemampuan yang baik dalam bernegosiasi, yang tentunya akan sangat berguna kelak dewasa nanti. Memarahi anak harus dengan cara yang benar, agar tidak berakibat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=27&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memarahi anak?<br />
Mau tak mau dalam waktu tertentu harus kita lakukan, namun setiap ada perselisihan dan ketidakcocokan prilaku anak tidak harus diselesaikan dengan memarahinya. Biasakan bernegosiasi dengan anak, agar kelak anak mempunyai kemampuan yang baik dalam bernegosiasi, yang tentunya akan sangat berguna kelak dewasa nanti.<span id="more-27"></span></p>
<p>Memarahi anak harus dengan cara yang benar, agar tidak berakibat fatal pada anak kita. Memarahi dengan emosi tentu akan membuat kita tidak terkontrol, alih alih membuat anak lebih baik, tapi sebaliknya anak menjadi ciut nyali, penakut, bahkan cedera karena kita.</p>
<p>Saat memarahi anak harus dipastikan kita tidak dalam keadaan marah, jadi kalau melihat anak rewel, mengesalkan, cek dulu emosi kita, kalau aman terkendali silahkan marahi anak anda, tentunya dengan nada orang marah, melotot, dll, namun jangan pernah anda terbawa amarah, emosi harus stabil. </p>
<p>Setelah puas, dan tercapai tujuan kita, (yang pasti jangan lama-lama, marahinya). Usahakan istri, atau suami kita, yang tidak sedang marahan sama anak, untuk mendekati anak yang kita marahin, mungkin dikasih jeda 5 menitan. Anak diajak bicara dengan nada yang lembut, beri penekanan, bahwa kalau anak berbuat salah maka akan dimarahi, yang penting kasih nasehat yang lembut dan kasih sayang. Ajak bicara dengan dipeluk atau digendong, biar anak merasa aman. </p>
<p>Setelah reda, dan anak menjadi tenang bapak atau ibu yang tadi memarahinya, coba mendekati dan peluk atau gendong dia dengan kasih sayang. Dan katakan padanya bahwa kita sangat sayang padanya, namun kalau berbuat salah, maka akan dimarahi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=27&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2009/03/24/marahi-dia-dengan-kasih-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biji Sawi dan Niat Kita</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2009/03/04/biji-sawi-dan-niat-kita/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2009/03/04/biji-sawi-dan-niat-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 08:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Pagi yang indah, langit cerah, hembusan angin meniup lembut dedaunan. Bergegas semua makhluk hidup menyambutnya. Di pagi itu sebiji sawi menggeliat, bergerak menembus tanah hitam yang yang menutupinya beberapa hari. Setelah beberapa hari di dalam tanah biji itu menjadi sawi yang mungil, mengintip matahari cerah pagi itu. Banyak mata yang mengamati kejadian luar biasa tersebut. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=23&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi yang indah, langit cerah, hembusan angin meniup lembut dedaunan. Bergegas semua makhluk hidup menyambutnya. Di pagi itu sebiji sawi menggeliat, bergerak menembus tanah hitam yang yang menutupinya beberapa hari.<span id="more-23"></span></p>
<p>Setelah beberapa hari di dalam tanah biji itu menjadi sawi yang mungil, mengintip matahari cerah pagi itu. Banyak mata yang mengamati kejadian luar biasa tersebut. Anak anak TK Ba Ta Tsa dengan penuh kekaguman dengan didampingi Bu Guru Zakiyyah, mengamatinya dengan seksama.</p>
<p>Senyum lebar tergambar di muka bu Zakiyyah, setelah melihat semua anak muridnya selesai mengagumi kejadian luarbiasa pagi ini. Bu Zakiyyah membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan ”Anak-anak apa yang sedang terjadi”, Semua murid terdiam, kata-kata yang biasanya berhamburan seperti turunnya hujan, seperti tidak sepatahpun keluar.</p>
<p>Ibu Zakiyyah tersenyum, sungguh Mahabesar dan Mahakuasa Allah yang telah menumbuhkan biji sawi tersebut menjadi kecambah sawi, pohon sawi yang masih kecil. Anak-anak ada sebuah contoh menarik yang telah hadir dihadapan kita, ibu akan bercerita tentang niat, niat bisa kita contohkan dengan sebiji sawi yang kita punyai, biji tersebut biji yang baik, biji yang sehat, biji yang sudah tua.</p>
<p>Biji tersebut bila kita tanam kita sirami, kita rawat, niscaya akan menjadi kecambah, kecambah tersebut perlu terus kita pelihara agar kelak kita bisa memetik hasilnya, yaitu daun daun sawi yang segar dan ranum, untuk kita masak.</p>
<p>Niat adalah biji sawi tersebut anak-anak, tanpa biji kita tidak bisa mempunyai pohon sawi. Biji sawi adalah syarat utama untuk mempunyai pohon sawi, tanpa biji sawi, pohon sawi tidak akan ada, walaupun kita menyiraminya, memupuk dengan pupuk terbaik. Pohon sawi tidak akan pernah tumbuh, apalagi besar dan memberikan hasil untuk kita. Makanya kita sangat perlu mempunyai biji sawi yang baik agar tumbuh menjadi pohon sawi yang baik juga.</p>
<p>Biji sawi adalah niat yang ada di hati kita niat tersebut adalah niat baik untuk berbuat sesuatu, niat akan menjadi amal perbuatan apabila niat tersebut kita laksanakan, dengan ibarat menanamnya di tanah, kemudian menyiraminya, memupuk, menjaga dari serangan hama dan kemudian memetik hasil terbaiknya. (Warsito Suwadi)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=23&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2009/03/04/biji-sawi-dan-niat-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pipo, Pipit kecil yang tersesat (Part 2)</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2008/02/04/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat-part-2/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2008/02/04/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 04:22:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[didik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[kesetian orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Warsito Suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)   Sesampainya Ibu Pipit ke dalam sarang, terlihat wajah Pipi yang cemas, demikian juga ayah yang nampak sedih mengkhawatirkan kondisi Ibu dan Pipo. Ibu….., teriak Pipi, sambil memeluk, Pipi menangis menyambut Ibu Pipit yang kelelahan dan basah kuyup oleh hujan. Ayahpun mendekapi ibu, “ di mana Pipo, ibu”, Tanya ayah dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=22&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Warsito Suwadi (<a href="mailto:sitosuwadi@yahoo.com">sitosuwadi@yahoo.com</a>)</p>
<p><a href="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/02/pipit-kecil.jpg" title="pipit-kecil.jpg"><img width="172" src="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/02/pipit-kecil.jpg?w=172&#038;h=441" alt="pipit-kecil.jpg" height="441" style="width:180px;height:270px;" /></a> </p>
<p>Sesampainya Ibu Pipit ke dalam sarang, terlihat wajah Pipi yang cemas, demikian juga ayah yang nampak sedih mengkhawatirkan kondisi Ibu dan Pipo.</p>
<p>Ibu….., teriak Pipi, sambil memeluk, Pipi menangis menyambut Ibu Pipit yang kelelahan dan basah kuyup oleh hujan. Ayahpun mendekapi ibu,<br />
 “ di mana Pipo, ibu”, Tanya ayah dengan khawatir,<br />
Demikian dengan Pipi, “di mana kak Pipo ibu”,<br />
Ibu Pipit menenangkan diri, baru kemudian menatap Ayah dan Pipi.<span id="more-22"></span></p>
<p> Sambil menghela nafas, ibu menceritakan kejadian yang di alaminya dengan Pipo, tampak ayah sedikit murung, sambil menghibur ibu,<br />
“ Bu, semua telah terjadi, kita tidak perlu menyalahkan siapapun, yang penting tenangkan diri, kita pasrahkan semoga Allah menjaga keselamatan Pipo.  Pipi dan ibu mengamininya,<br />
 Amiin..</p>
<p>Hari makin gelap di dasar hutan yang lembab dan basah. Pipo  merintih kesakitan, punggungnya membentur tanah. Sementara air hujan  mulai membasahi tanah, tubuh Pipo semakin kuyup. Namun hati Pipo tetap teguh, dia rentangkan sayap-sayapnya yang masih lemah, dikepak-kepakkan sekuat tenaga untuk terbang kembali, namun sayap basahnya membuat tak berkembang, ditambah dengan guyuran air hujan yang deras membuat usaha Pipo sia-sia belaka.</p>
<p>Air di dasar hutan makin menggenang, dengan cepat membentuk aliran-aliran air yang semakin besar, Pipo kaget karena tubuhnya terseret aliran air yang semakin deras. Pipo  menghindar, dengan sisa tenaganya ia berlari mencari tempat yang tinggi agar aman tak terbawa air, dengan terengah-engah, Pipo akhirnya menemukan pokok pohon yang mati, karena batangnya ditebang. </p>
<p>Dengan kakinya yang lemah dan sayap basah, Pipo mengambil ancang-ancang, satu-dua-tiga  huppp, Pipo  meloncat dibantu dengan sayapnya yang basah,<br />
“Gubrakkkkk” Pipo limbung dan jatuh.<br />
Sementara air telah mencapai tanah di sekitar pokok pohon yang diincar Pipo.<br />
 Pipo mulai panik, namun hatinya terus menyemangati, ayooo, ayooo Pipo, kamu bisa Pipo, kamu kuat Pipo, kamu hebat Pipo, kamu tak terkalahkan, jangan panik, jangan takut, kamu harus bisa, dan pasti bisa. Dicobanya sekali lagi, hup, namun tubuhnya kembali menghantam pokok pohon. Air semakin menggenang, dan mulai membuat aliran. </p>
<p>Hutan yang semakin gelap, membuat hati Pipo  semakin gusar, ketakutan semakin mencengkeram, menghantui, memperlemah. Namun tiba-tiba ada kekuatan yang entah dari mana datangnya,<br />
&#8220;Bismillah&#8221;<br />
ucap Pipo untuk tetap berusaha, dan ahaaaa, kaki Pipo menubruk bebatuan yang menonjol. Pipo berusaha untuk naik ke atas batu, dan hap ia berhasil mencapai di atas batu. Dengan terengah-engah Pipo istirahat sebentar, untuk mengumpulkan tenaga.Alhamdulillah kemudian dengan lompatan yang lemah Pipo dapat mencapai pokok pohon untuk berlindung dari terjangan air yang semakin membesar karena hujannya semakin lebat dan belum ada tanda-tanda berhenti. </p>
<p>Hati Pipo lega, walau badan kedinginan dan menggigil namun ia telah aman dari aliran deras air hujan.</p>
<p>Ayah dan Ibu pipit, tak dapat tidur walau sejenak, mereka sangat sedih dan cemas akan keselamatan Pipo. Sementara Pipi sudah terlelap karena kelelahan menunggu kakaknya.</p>
<p>Di hutan, bebunyian serangga mulai ramai. Hujan sudah mulai reda, namun air masih mengalir menuju sungai. Pipo kedinginan, Pipo merapatkan badannya pada pokok pohon agar tidak terterpa langsung oleh angin..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dongenganak.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dongenganak.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=22&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2008/02/04/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/02/pipit-kecil.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pipit-kecil.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pipo, Pipit kecil yang tersesat (Part 1)</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2008/02/01/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2008/02/01/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 07:50:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[didik anak]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita membangun anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[dongen anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[kepatuhan anak]]></category>
		<category><![CDATA[membangun mental anak]]></category>
		<category><![CDATA[mentalitas anak]]></category>
		<category><![CDATA[tauladan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[ image: gettyimages  Oleh: Warsito Suwadi (sitosuwadi@yahoo.com) Hari menjelang sore, burung-burung bergegas menuju sarang. Angin bertiup kencang. Langit bergelayut dengan mendung yang menghitam. Petir bersautan disertai kilat yang menyambar-nyambar. Sayup terdengar teriakan, “ Ibu dimana kah kau ibu!!!!! jangan kau tinggalkan aku, ibu….. Sementara di sebelah hutan yang lain sang ibu, burung pipit dengan hati yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=14&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/02/pipit-kecil.jpg" title="pipit-kecil.jpg"><img width="318" src="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/02/pipit-kecil.jpg?w=318&#038;h=355" alt="pipit-kecil.jpg" height="355" style="width:261px;height:341px;" /></a> image: gettyimages</p>
<h4> Oleh: Warsito Suwadi (<a href="mailto:sitosuwadi@yahoo.com">sitosuwadi@yahoo.com</a>)</h4>
<p>Hari menjelang sore, burung-burung bergegas menuju sarang. Angin bertiup kencang. Langit bergelayut dengan mendung yang menghitam. Petir bersautan disertai kilat yang menyambar-nyambar.</p>
<p>Sayup terdengar teriakan, “ Ibu dimana kah kau ibu!!!!!<br />
jangan kau tinggalkan aku,<br />
ibu….. <span id="more-14"></span></p>
<p>Sementara di sebelah hutan yang lain sang ibu, burung pipit dengan hati yang semakin cemas mencari-cari Pipo, pipit kecil anaknya, </p>
<p>“ Pipo dimanakah kamu, teriak sang ibu, </p>
<p>“Pipo,  ibu mencemaskanmu, dimanakah kau, nak. Panggil sang ibu sambil meneteskan air matanya.</p>
<p>Angin semakin kencang meniup ranting-ranting pepohonan, menerbangkan dedaunan yang patah dari tangkainya, karena kencangnya angin menerpa. Pipo masih terus berteriak memanggil ibunya. Ibuuuu, ibuuu, ibuuuuu. Air mata Pipo berhamburan..</p>
<p>“Ibu, apakah kau dengar suaraku….., teriakanku…., Pipo semakin keras suaranya, namun tiupan angin menelan suaranya yang semakin sengau dan kelelahan.</p>
<p>Kepak-kepak sayap yang lemah tak kuasa lagi melawan angin yang semakin kencang meniup, tapi dengan gigih Pipo melawannya dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, tubuh kecil Pipo terhempas dan jatuh ke tanah. Pipo menangis sejadi-jadinya, mengaduh kesakitan, meraung-raung. Ia sendiri, ia sangat ingin pulang, terbanyak semua kesalahannya pada ibu tercinta, kenakalannya pada adiknya, ia meraung, menyesal, tanpa ibu, tanpa adik tanpa ayah Pipo sangat menderita…, Ibu…., ayah,  adikk…. Maafkan Pipo. Pipo sangat sayang kalian, Pipo kini sendiri……, tolong  Pipo….., Ya Allah tolang Pipooo……</p>
<p>Air mata Ibu Pipit, mengalir, hatinya sedih, khawatir dan mencemaskan Pipo. Ibu pipit terus mencari di setiap sudut hutan, namun pandangan mata ibu Pipit  semakin terbatas karena hari semakin gelap,sementara angin yang bertiup semakin membatasi gerakannya untuk terus mencari Pipo. Jarak sarang yang masih jauh memaksanya ibu Pipit untuk segera pulang ke sarang. Si Pipi kecil pasti berharap cemas menunggu kedatangan Ibu dan ayah yang meninggalkannya sendiri.</p>
<p>Ibu Pipit, menangis sambil sekali-kali memanggil Pipo, “Pipo, dimanakah kau nak”, Pipo dimanakah kau nak.</p>
<p>Langit semakin gelap, gerimis semakin deras, ibu Pipit dengan cepat terbang menerobos gerimis yang menjadi hujan yang lebat. Ibu Pipit tak bisa meninggalkan Pipi di sarang dengan hujan sederas ini. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dongenganak.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dongenganak.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=14&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2008/02/01/pipo-pipit-kecil-yang-tersesat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/02/pipit-kecil.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pipit-kecil.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kupu-kupu untuk Rani</title>
		<link>http://dongenganak.wordpress.com/2008/01/04/kupu-kupu-untuk-rani/</link>
		<comments>http://dongenganak.wordpress.com/2008/01/04/kupu-kupu-untuk-rani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jan 2008 09:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dongenganak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongenganak.wordpress.com/2008/01/04/kupu-kupu-untuk-rani/</guid>
		<description><![CDATA[warsito suwadi  reach me on sitosuwadi@yahoo.com    Rani kaget sekali, hatinya sangat marah, takut dan kesal. Tanaman Sri Rejeki yang ada di teras adalah tanaman kesayangan Kakek. Rani diberi tugas kakek untuk menyiramnya tiap sore, agar tumbuh sehat dan indah. Namun sore ini daun tanaman itu rusak. &#8220;pasti ini kerjaan anak-anak nakal itu&#8221;. Rani mencoba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=11&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>warsito suwadi  reach me on <a href="mailto:sitosuwadi@yahoo.com">sitosuwadi@yahoo.com</a></p>
<p><a href="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/01/s_butterfly-kecil.jpg" title="s_butterfly-kecil.jpg"><img src="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/01/s_butterfly-kecil.jpg?w=535" alt="s_butterfly-kecil.jpg" /></a>   Rani kaget sekali, hatinya sangat marah, takut dan kesal. Tanaman Sri Rejeki yang ada di teras adalah tanaman kesayangan Kakek. Rani diberi tugas kakek untuk menyiramnya tiap sore, agar tumbuh sehat dan indah. Namun sore ini daun tanaman itu rusak.</p>
<p>&#8220;pasti ini kerjaan anak-anak nakal itu&#8221;.</p>
<p>Rani mencoba melihat lebih seksama pada daun yang rusak itu. Ia merasa aneh, sebab daun tersebut membentuk bulatan yang rapi, tidak ada bekas disobek atau digunting. &#8220;sungguh aneh&#8221; gumam Rani.</p>
<p>Rani bergegas untuk menyampaikan pada  Kakek.</p>
<p>&#8220;Kakek, kakek&#8230;&#8230;&#8221;. Rani memanggil kakek yang sedang menikmati teh hangatnya di ruang keluarga.</p>
<p>&#8221; Ya sayang ada apa?&#8221;,</p>
<p>&#8220;Kakek marah enggak pada Rani&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kalau Rani tidak salah tentu kakek tidak akan menegur bahkan memarahimu&#8221;.</p>
<p>Sambil mengelus rambut Rani yang hitam dan tebal.</p>
<p>&#8220;Ayo katakan ada apa sayang..&#8221;</p>
<p>Sambil merajuk, &#8220;Kakek tanaman kesayangan kakek yang  di teras, daunnya rusak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tanaman yang mana sayang&#8221;, dengan nada yang tak selembut tadi, membuat Rani sedikit ketakutan.</p>
<p>&#8220;Tanaman Sri&#8230;.Rejeki yang berwarna merah kesayangan Kakek&#8221;.</p>
<p>Wajah kakek semakin tegang dengan senyum yang dipaksakan, supaya Rani tidak semakin ketakutan.</p>
<p>&#8220;Rani, kakek senang sekali kau mau, menceritakan apa yang terjadi pada tanaman Kakek, kamu tak perlu takut seperti itu&#8221;. Sejenak wajah Rani yang ketakutan berangsur menjadi tenang.</p>
<p>&#8220;Ayo kita lihat, seperti apa rusaknya&#8221;. Bergegas kakek dan cucu itu menuju ke teras. Sesampainya di teras, kakek mendekati tanaman Sri rejeki. Kakek tersenyum, tampak sekali senyumannya tulus penuh kasih sayang pada cucunya.</p>
<p>Hati Rani riang namun bercampur heran.&#8221;Kek, jadi kakek tidak marah sri rejekinya rusak, sobek seperti itu.</p>
<p>Masih sambil tersenyum kakek menggelengkan kepala.</p>
<p>Rani heran, mendesak kakek untuk mengatakan alasannya.  &#8220;Memang kenapa kek, kakek tidak  marah, namun malah tersenyum&#8221;</p>
<p>Kakek menatap Rani, &#8220;Rani kenapa kakek tidak marah karena yang membuat sobek daun ini adalah  ulat, tidakkah kau perhatikan di balik daun itu ada makhluk Allah yang sedang bersembunyi berwarna hijau kemerahan, hampir sewarna dengan warna daun.</p>
<p>Kakek membalik  sisa daun yang rusak kepada Rani, seketika Rani menjerit ketakutan. &#8220;Kakek&#8230;&#8230;,   Rani takut..&#8221;. Sambil menghindar Rani menjauh dari kakeknya.</p>
<p>Kakek membalik lagi daun itu, sambil  menghela nafas dan memaklumi ketakutan cucunya. &#8220;Sebenarnya tak ada yang ditakuti atau jijik pada makhluk ciptaan Allah ini Rani&#8221;.</p>
<p>Dari wajah pias ketakutan Rani, seketika Rani berteriak &#8220;Matikan saja ulat itu Kek, Rani takut sekali, dan bukankah ulat itu melahap daun tanaman kesayangan kakek&#8221;.</p>
<p>Kakek menatap Rani dengan senyum sejuknya, berlahan urat-urat ketakutan Rani mulai mengendur dari wajah. Kakek mengelus kepala Rani dengan rambut tebal dan hitam. &#8220;Cucuku, kakek tak akan menyakiti ulat ini&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa kek, bukannya ulat tersebut telah merugikan kita kek, telah merugikan kakek karena memakan daun sri rejeki yang mahal harganya&#8221;.</p>
<p>Senyum kakek masih tersungging, &#8220;Rani cucuku, maukah kakek ceritakan tentang si ulat itu. Pasti kamu akan tertarik. Rani, walau ulat itu binatang yang menjijikkan bagi sebagai orang tapi ada banyak pelajaran menarik yang bisa diambil darinya&#8221;.</p>
<p>Kakek mulai menerawang, seolah sedang merangkai dan mengurutkan cerita, agar Rani dengan mudah mengerti dan menyenangi ceritanya.</p>
<p>Rani, ulat lahir dari telur, yang diletakkan oleh ibunya pada dedaunan yang telah dipilih. Kata sang ibu &#8220;Anakku, dengan seijin Allah aku letakkan kau di daun ini semoga, kau akan menjadi ulat yang sehat, gemuk dan besar&#8221;.</p>
<p>Sang ibu meletakkan telur itu di daun. Telur itu menempel kuat di daun tersebut. Sekali lagi sang ibu memandang telur, sambil bergumam, &#8220;Bukannya aku tak sayang padamu nak, namun kau harus melalui cara seperti ini, sesungguhnya aku tak tega, namun harus seperti itu jalan yang mesti kau tempuh.</p>
<p>Sang Ibu mengepakkan sayapnya, ternyata ia adalah kupu-kupu yang eloh rupa. Tampak warna biru mengkilat menghiasi kedua sayapnya, berkilauan diterpa sinar matahari. Kepakan sayapnya sangat anggun.</p>
<p>Rani, sang ibu kembali terbang untuk mencari makan, hinggap di bunga-bunga yang mekar untuk mengisap madunya. &#8220;Tahukan kau nak, kupu tersebut sangat diharapkan oleh sang bunga.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa, kek&#8221; tanya Rani dengan heran.</p>
<p>Rani ketika kupu-kupu mengisap madu  maka ia sekaligus  melakukan penyerbukan.</p>
<p>&#8221; penyerbukan itu apa sih kek&#8221; kejar Rani</p>
<p> Rani, penyerbukan adalah cara yang harus dilalui agar bunga bisa menjadi buah. Buah itulah kemudian yang sangat  berguna untuk kehidupan dan meneruskan keturunan sang pohon.</p>
<p>Rani terlihat mengangguk dengan sedikit tanda tanya yang tak terselesaikan.</p>
<p>Rani Setelah 8 hari, telur yang ditinggal sang kupu-kupu akhirnya menetas menjadi ulat kecil. Kupi namanya. dengan sigap Kupi mulai mengunyah daun tempat ia di lahirkan.</p>
<p> Sedikit demi sedikit Kupi kunyah daunnya tanpa ada jeda. Seolah diburu oleh waktu. &#8220;Kupi harus banyak makan, agar Kupi cepat besar&#8221;, demikian kata Kupi ketika Capi si Capung menanyakan dengan keheranan, &#8220;Kenapa Kupi sangat pandai makannya&#8221;. &#8220;Kupi ingin cepat besar, Kupi harus makan yang banyak biar tidak sakit, Kupi sangat suka makan sayuran, sehingga Kupi Kuat&#8221;. Demikian jawaban Kupi selanjutnya.</p>
<p>Kupi, tumbuh menjadi ulat yang gemuk dan besar, kulitnya mengkilat karena sehat. Ini adalah minggu ketiga semenjak Kupi menetas dari telur. Daun tempat kupi lahir sekarang tinggal tulang daunnya saja, demikian daun yang di sebelahnya, ada empat daun yang telah dilahap Kupi.</p>
<p>Kupi harus pintar-pintar menjaga diri sekarang, dengan  tubuhnya yang gemuk pasti akan mengundang hewan pemangsa serangga yang akan mengincarnya, demikian burung-burung akan sangat menyukai kelezatan tubuh Kupi.<br />
Kupi selalu bersembunyi di bagian bawah daun yang dilahapnya, dan juga dengan <i>berkamuflas</i>e,  melalui warna tubuhnya yang sewarna dengan daun. Oh kamuflase adalah cara menyamar dengan menyamakan diri dengan warna lingkungan sekitar, sehingga pemangsa akan kesulitan untuk memangsa.</p>
<p>Setelah empat minggu Kupi bekerja tidak kenal henti dari pagi sampai matahari tenggelam, hingga hampir semua daun dalam pot meranggas. Kupi berhenti sama sekali diam, seperti pertapa. Dari mulutnya keluar benang-benag halus yang lambat laun membungkus seluruh badannya, yah kupi dibungkus dalam kepompong.</p>
<p>Kupi berpuasa selama tiga minggu. Kupi  dalam kepompong tanpa makan maupun minum. Kupi terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>Alhamdulillah, puasa Kupi telah sampai di minggu terakhir. Kupi keluar dari kepompong yang membelenggunya. Berlahan keluar, dan sungguh luar biasa Kupi terlihat lain, sama sekali bukan ulat yang menjijikkan. Kupi telah menjadi seekor kupu-kupu.</p>
<p>Setelah seluruh tubuh Kupi keluar dari kepompong, terlihat tubuh yang masih lemah. Kupi merentangkan kedua sayapnya yang masih lemah dan basah, berlahan dengan ditimpa sinar matahari sayap-sayap kupi menjadi kuat.</p>
<p>Setelah beberapa jam Kupi diam sambil merentangkan sayapnya, ia telah menjadi kupu-kupu yang siap terbang.</p>
<p>Kupi  menjadi kupu-kupu yang indah sekali warnanya. Semua mata takjub melihatnya.</p>
<p>Rani sekarang mengerti mengapa Kakek tidak membunuh ulat yang  merusak tanaman kesayangannya.</p>
<p>Kakek mengecup dahi Rani. &#8220;semoga kau banyak mendapat pelajaran dari Kupi nak&#8221;.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dongenganak.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dongenganak.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dongenganak.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dongenganak.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dongenganak.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dongenganak.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dongenganak.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dongenganak.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dongenganak.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dongenganak.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dongenganak.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dongenganak.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dongenganak.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dongenganak.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dongenganak.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dongenganak.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dongenganak.wordpress.com&amp;blog=2128434&amp;post=11&amp;subd=dongenganak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongenganak.wordpress.com/2008/01/04/kupu-kupu-untuk-rani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ae12e03a7b1980fe2c6115889a360b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dongenganak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongenganak.files.wordpress.com/2008/01/s_butterfly-kecil.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s_butterfly-kecil.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
