Pipo, Pipit Kecil yang tersesat 3
12 Jan 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in didik anak, Dongeng Hikmah Tag:akhlak mulia, anak cerdas, dongeng anak, dongeng motivasi, dongeng sehat, emotional, mendidik, tumbuh kembang
by Warsito Suwadi
Semalaman Pipo terjebak di dalam hutan yang gelap dan dingin. Tanpa di temani Pipi, ayah dan ibu tercinta. Pipo diliputi dengan ketakutan dan kedinginan. Pipo tak dapat tidur sekejappun, ia hanya mampu berdoa semoga malam cepat menjadi pagi, agar ibu dan ayah dapat menemukannya kembali. Pipo berdoa pada Allah agar ia selamat dari segala binatang buas yang mencari makan di malam ini.
Pipo menyesal, sebab tak menuruti nasehat ibu, agar tidak terbang jauh-jauh dari ibu. Pipo baru bisa terbang dan belum pintar, namun karena terlalu asyik mengepakkan sayap menikmati udara dan pemandangan hutan yang menakjubkan sehingga tanpa terasa Pipo terbang dan menjauh dari ibu.
Walau ibu tak pernah lepas pengawasannya terhadap Pipo namun ibu lengah juga saat mengejar serangga. Sementara Pipo mengikuti angin yang berhembus lembut, sampai pada saat langit makin gelap karena mendung dan menjelang malam. Pipo panik, ia berusaha mengingat jalan yang dilalui namun gagal.
Riuh suara burung dan kokok ayam hutan riuh menyambut matahari yang semburat merahnya masih sangat samar di ufuk timur, hati Pipo sangat girang, sebentar lagi ibu dan ayah akan mencarinya, dan pasti menemukannya.
Matahari makin memerah di ufuk timur. Ibu dan Ayah bergegas terbang meninggalkan sarang untuk pergi mencari pipo. Ayah dan ibu pergi ke tempat terakhir waktu berpisah dengan Pipo. Ayah terakhir di sini Ibu dan Pipo berpisah. “ Ayah coba cari Pipo ke sebelah utara, sedang Ibu ke sebelah selatan, semoga Pipo cepat ditemukan ya Yah, Amin Ibu. Terbanglah mereka kearah utara dan selatan sambil memanggil nama Pipo. “Pipo, Pipo di manakah kau nak, ayah dan ibu mencari mu.
Dengan hati-hati tiap sudut hutan di cari, mereka takut bila Pipo terluka dan jatuh sampai kondisi yang parah. Ayah dan Ibu terus menyisir hutan sambil memanggil Pipo.
Pipo berusaha terbang dengan mengepak-kepakkan sayapnya biar kering dan mampu terbang kembali, biar memudahkannya ayah dan ibu menemukannya.
Sayup-sayup telinga Pipo mendengar teriakan Ayah, hatinya senang sekali, Pipo meloncat, Pipo mengepakkan sayapnya dengan keras, karena tidak seimbang Pipo jatuh terjengkang, namun Pipo tak merasakan kesakitan, Pipo segera abngkit kembali. Inilah saat yang ditunggu-tunggu.
Dengan suara lantang Pipo berteriak ”Ayah Pipo disini”. Sekali lagi Pipo berteriak menyambut panggilan Ayah.
Ayah mendengar teriakan Pipo dan dengan cepat ayah terbang menuju tempat Pipo bertengger.
Pipo menjadi riang bukan kepalang demikian juga ayah,. Alhamdulillah, kau selamat nak, kata ayah. Pipo tak mampu berkata-kata, namun hatinya sangat bahagia sekali karena masih selamat dan masih mempunyai kesempatan berkumpul kembali dengan ayah, ibu dan Pipi kembali.
Tak berapa lama ibu terbang menghampiri Pipo dan ayah, senyum ibu mengembang menyambut Pipo, Pipo mendekati ibu, dengan senyum mengembang Pipo memeluk ibu, air mata ibu dan pipo tumpah.
Alhamdulillah nak kau masih selamat, ibu dan ayah sangat mencemaskanmu demikian juga Pipi, ”Ibu maafkan Pipo bu, yang tak menghiraukan nasehat ibu, dan lalai sehingga Pipo tersesat.
Tidak apa-apa nak, yang penting lain kali jangan pernah diulang kembali.
Akhir bertiga anak, ibu, dan ayah terbang beriringan dengan hati yang bahagia, sebab mereka dikumpulkan kembali, mereka bergegas pulang ke sarang untuk mensyukuri keselamatan Pipo bersama Pipi yang tentunya masih cemas menunggu.
Abi Saif & Salwa 11-20 07
