warsito suwadi reach me on sitosuwadi@yahoo.com
Rani kaget sekali, hatinya sangat marah, takut dan kesal. Tanaman Sri Rejeki yang ada di teras adalah tanaman kesayangan Kakek. Rani diberi tugas kakek untuk menyiramnya tiap sore, agar tumbuh sehat dan indah. Namun sore ini daun tanaman itu rusak.
“pasti ini kerjaan anak-anak nakal itu”.
Rani mencoba melihat lebih seksama pada daun yang rusak itu. Ia merasa aneh, sebab daun tersebut membentuk bulatan yang rapi, tidak ada bekas disobek atau digunting. “sungguh aneh” gumam Rani.
Rani bergegas untuk menyampaikan pada Kakek.
“Kakek, kakek……”. Rani memanggil kakek yang sedang menikmati teh hangatnya di ruang keluarga.
” Ya sayang ada apa?”,
“Kakek marah enggak pada Rani”.
“Kalau Rani tidak salah tentu kakek tidak akan menegur bahkan memarahimu”.
Sambil mengelus rambut Rani yang hitam dan tebal.
“Ayo katakan ada apa sayang..”
Sambil merajuk, “Kakek tanaman kesayangan kakek yang di teras, daunnya rusak”.
“Tanaman yang mana sayang”, dengan nada yang tak selembut tadi, membuat Rani sedikit ketakutan.
“Tanaman Sri….Rejeki yang berwarna merah kesayangan Kakek”.
Wajah kakek semakin tegang dengan senyum yang dipaksakan, supaya Rani tidak semakin ketakutan.
“Rani, kakek senang sekali kau mau, menceritakan apa yang terjadi pada tanaman Kakek, kamu tak perlu takut seperti itu”. Sejenak wajah Rani yang ketakutan berangsur menjadi tenang.
“Ayo kita lihat, seperti apa rusaknya”. Bergegas kakek dan cucu itu menuju ke teras. Sesampainya di teras, kakek mendekati tanaman Sri rejeki. Kakek tersenyum, tampak sekali senyumannya tulus penuh kasih sayang pada cucunya.
Hati Rani riang namun bercampur heran.”Kek, jadi kakek tidak marah sri rejekinya rusak, sobek seperti itu.
Masih sambil tersenyum kakek menggelengkan kepala.
Rani heran, mendesak kakek untuk mengatakan alasannya. “Memang kenapa kek, kakek tidak marah, namun malah tersenyum”
Kakek menatap Rani, “Rani kenapa kakek tidak marah karena yang membuat sobek daun ini adalah ulat, tidakkah kau perhatikan di balik daun itu ada makhluk Allah yang sedang bersembunyi berwarna hijau kemerahan, hampir sewarna dengan warna daun.
Kakek membalik sisa daun yang rusak kepada Rani, seketika Rani menjerit ketakutan. “Kakek……, Rani takut..”. Sambil menghindar Rani menjauh dari kakeknya.
Kakek membalik lagi daun itu, sambil menghela nafas dan memaklumi ketakutan cucunya. “Sebenarnya tak ada yang ditakuti atau jijik pada makhluk ciptaan Allah ini Rani”.
Dari wajah pias ketakutan Rani, seketika Rani berteriak “Matikan saja ulat itu Kek, Rani takut sekali, dan bukankah ulat itu melahap daun tanaman kesayangan kakek”.
Kakek menatap Rani dengan senyum sejuknya, berlahan urat-urat ketakutan Rani mulai mengendur dari wajah. Kakek mengelus kepala Rani dengan rambut tebal dan hitam. “Cucuku, kakek tak akan menyakiti ulat ini”.
“Memangnya kenapa kek, bukannya ulat tersebut telah merugikan kita kek, telah merugikan kakek karena memakan daun sri rejeki yang mahal harganya”.
Senyum kakek masih tersungging, “Rani cucuku, maukah kakek ceritakan tentang si ulat itu. Pasti kamu akan tertarik. Rani, walau ulat itu binatang yang menjijikkan bagi sebagai orang tapi ada banyak pelajaran menarik yang bisa diambil darinya”.
Kakek mulai menerawang, seolah sedang merangkai dan mengurutkan cerita, agar Rani dengan mudah mengerti dan menyenangi ceritanya.
Rani, ulat lahir dari telur, yang diletakkan oleh ibunya pada dedaunan yang telah dipilih. Kata sang ibu “Anakku, dengan seijin Allah aku letakkan kau di daun ini semoga, kau akan menjadi ulat yang sehat, gemuk dan besar”.
Sang ibu meletakkan telur itu di daun. Telur itu menempel kuat di daun tersebut. Sekali lagi sang ibu memandang telur, sambil bergumam, “Bukannya aku tak sayang padamu nak, namun kau harus melalui cara seperti ini, sesungguhnya aku tak tega, namun harus seperti itu jalan yang mesti kau tempuh.
Sang Ibu mengepakkan sayapnya, ternyata ia adalah kupu-kupu yang eloh rupa. Tampak warna biru mengkilat menghiasi kedua sayapnya, berkilauan diterpa sinar matahari. Kepakan sayapnya sangat anggun.
Rani, sang ibu kembali terbang untuk mencari makan, hinggap di bunga-bunga yang mekar untuk mengisap madunya. “Tahukan kau nak, kupu tersebut sangat diharapkan oleh sang bunga.
“Memangnya kenapa, kek” tanya Rani dengan heran.
Rani ketika kupu-kupu mengisap madu maka ia sekaligus melakukan penyerbukan.
” penyerbukan itu apa sih kek” kejar Rani
Rani, penyerbukan adalah cara yang harus dilalui agar bunga bisa menjadi buah. Buah itulah kemudian yang sangat berguna untuk kehidupan dan meneruskan keturunan sang pohon.
Rani terlihat mengangguk dengan sedikit tanda tanya yang tak terselesaikan.
Rani Setelah 8 hari, telur yang ditinggal sang kupu-kupu akhirnya menetas menjadi ulat kecil. Kupi namanya. dengan sigap Kupi mulai mengunyah daun tempat ia di lahirkan.
Sedikit demi sedikit Kupi kunyah daunnya tanpa ada jeda. Seolah diburu oleh waktu. “Kupi harus banyak makan, agar Kupi cepat besar”, demikian kata Kupi ketika Capi si Capung menanyakan dengan keheranan, “Kenapa Kupi sangat pandai makannya”. “Kupi ingin cepat besar, Kupi harus makan yang banyak biar tidak sakit, Kupi sangat suka makan sayuran, sehingga Kupi Kuat”. Demikian jawaban Kupi selanjutnya.
Kupi, tumbuh menjadi ulat yang gemuk dan besar, kulitnya mengkilat karena sehat. Ini adalah minggu ketiga semenjak Kupi menetas dari telur. Daun tempat kupi lahir sekarang tinggal tulang daunnya saja, demikian daun yang di sebelahnya, ada empat daun yang telah dilahap Kupi.
Kupi harus pintar-pintar menjaga diri sekarang, dengan tubuhnya yang gemuk pasti akan mengundang hewan pemangsa serangga yang akan mengincarnya, demikian burung-burung akan sangat menyukai kelezatan tubuh Kupi.
Kupi selalu bersembunyi di bagian bawah daun yang dilahapnya, dan juga dengan berkamuflase, melalui warna tubuhnya yang sewarna dengan daun. Oh kamuflase adalah cara menyamar dengan menyamakan diri dengan warna lingkungan sekitar, sehingga pemangsa akan kesulitan untuk memangsa.
Setelah empat minggu Kupi bekerja tidak kenal henti dari pagi sampai matahari tenggelam, hingga hampir semua daun dalam pot meranggas. Kupi berhenti sama sekali diam, seperti pertapa. Dari mulutnya keluar benang-benag halus yang lambat laun membungkus seluruh badannya, yah kupi dibungkus dalam kepompong.
Kupi berpuasa selama tiga minggu. Kupi dalam kepompong tanpa makan maupun minum. Kupi terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.
Alhamdulillah, puasa Kupi telah sampai di minggu terakhir. Kupi keluar dari kepompong yang membelenggunya. Berlahan keluar, dan sungguh luar biasa Kupi terlihat lain, sama sekali bukan ulat yang menjijikkan. Kupi telah menjadi seekor kupu-kupu.
Setelah seluruh tubuh Kupi keluar dari kepompong, terlihat tubuh yang masih lemah. Kupi merentangkan kedua sayapnya yang masih lemah dan basah, berlahan dengan ditimpa sinar matahari sayap-sayap kupi menjadi kuat.
Setelah beberapa jam Kupi diam sambil merentangkan sayapnya, ia telah menjadi kupu-kupu yang siap terbang.
Kupi menjadi kupu-kupu yang indah sekali warnanya. Semua mata takjub melihatnya.
Rani sekarang mengerti mengapa Kakek tidak membunuh ulat yang merusak tanaman kesayangannya.
Kakek mengecup dahi Rani. “semoga kau banyak mendapat pelajaran dari Kupi nak”.