Aku adalah Rumput

grass

Menjadi rumput di keluasan padang yang menghampar. Dengan hijaunya dan tebaran hewan-hewan yang merumput untuk memenuhi hajat kehidupan. Di atasmu mereka berbiak, bergembira, mencari makan dan mereka mengotorimu. Menginjak-injak dan kemudian meninggalkanmu ketika kau sudah tak subur, kering bahkan sekarat mendekati kematian. Lanjutkan membaca

Marahi dia dengan kasih sayang

Memarahi anak?
Mau tak mau dalam waktu tertentu harus kita lakukan, namun setiap ada perselisihan dan ketidakcocokan prilaku anak tidak harus diselesaikan dengan memarahinya. Biasakan bernegosiasi dengan anak, agar kelak anak mempunyai kemampuan yang baik dalam bernegosiasi, yang tentunya akan sangat berguna kelak dewasa nanti. Lanjutkan membaca

Biji Sawi dan Niat Kita

Pagi yang indah, langit cerah, hembusan angin meniup lembut dedaunan. Bergegas semua makhluk hidup menyambutnya. Di pagi itu sebiji sawi menggeliat, bergerak menembus tanah hitam yang yang menutupinya beberapa hari. Lanjutkan membaca

Pipo, Pipit kecil yang tersesat (Part 2)

Oleh: Warsito Suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)

pipit-kecil.jpg 

Hutan yang semakin gelap, membuat hati Pipo  semakin gusar, namun ia tetap berusaha, dan ahaaaa, kaki Pipo menubruk bebatuan yang menonjol. Pipo berusaha untuk naik ke atas batu, dan hap ia berhasil mencapai di atas batu. Dengan terengah-engah Pipo, istirahat sebentar, untuk mengumpulkan tenaga.Kemudian dengan lompatan yang lemah Pipo dapat mencapai pokok pohon untuk berlindung dari terjangan air yang semakin membesar karena hujannya semakin lebat dan belum ada tanda-tanda berhenti.

Ayah dan Ibu pipit, tak dapat tidur walau sejenak, mereka sangat sedih dan cemas akan keselamatan Pipo. Sementara Pipi sudah terlelap karena kelelahan menunggu kakaknya.

Di hutan, bebunyian serangga mulai ramai. Hujan sudah mulai reda, namun air masih mengalir menuju sungai. Pipo kedinginan, Pipo merapatkan badannya pada pokok pohon agar tidak tertepa langsung oleh angin. Dinginnya malam dengan hembusan angin.

Semalaman Pipo terjebak di dalam hutan yang gelap dan dingin. Tanpa di temani Pipi, ayah dan ibu tercinta. Pipo dengan penuh ketakutan dan kedinginan tak dapat tidur sekejappun, ia hanya mampu berdoa semoga malam cepat menjadi pagi, agar ibu dan ayah dapat menemukannya kembali. Pipo berdoa pada Allah agar ia selamat dari segala binatang buas yang mencari makan di malam ini.

Pipo menyesal, sebab tak menuruti nasehat ibu, agar tidak terbang jauh-jauh dari ibu. Pipo baru bisa terbang dan belum pintar. Namun karena terlalu asyik mengepakkan sayap menikmati udara dan pemandangan hutan yang menakjubkan sehingga tanpa terasa Pipo terbang dan menjauh dari ibu. Walaupun ibu tak pernah lepas pengawasannya terhadap Pipo namun ibu lengah juga saat mengejar serangga. Sementara Pipo mengikuti angin yang berhembus lembut, sampai pada saat langit makin gelap karena mendung dan menjelang malam. Pipo panik, ia berusaha mengingat jalan yang dilalui namun gagal.

                                                       *

Riuh suara burung dan kokok ayam hutan riuh menyambut matahari yang semburat merahnya masih sangat samar di ufuk timur, hati Pipo sangat girang, sebentar lagi ibu dan ayah akan mencarinya, dan pasti menemukannya.

Matahari makin memerah di ufuk timur. Ibu dan Ayah bergegas terbang meninggalkan sarang untuk pergi mencari pipo. Ayah dan ibu pergi ke tempat terakhir waktu berpisah dengan Pipo. Ayah terakhir di sini Ibu dan Pipo berpisah. ” Ayah coba cari Pipo ke sebelah utara, sedang Ibu ke sebelah selatan, semoga Pipo cepat ditemukan ya Yah, Amin Ibu. Terbanglah mereka kearah utara dan selatan sambil memanggil nama Pipo. “Pipo, Pipo di manakah kau nak, ayah dan ibu mencari mu.

Dengan hati-hati tiap sudut hutan di cari, mereka takut bila Pipo terluka dan jatuh sampai kondisi yang parah. Ayah dan Ibu terus menyisir hutan sambil memanggil Pipo.

Pipo berusaha terbang dengan mengepak-epakkan sayapnya biar kering dan mampu terbang kembali, selain itu juga akan memudahkannya ayah dan ibu  menemukannya.

Sayup-sayup telinga Pipo mendengar teriakan Ayah, hatinya senang sekali. Ini yang ditunggu-tnggu. Dengan suara lantang Pipo berteriak “Ayah Pipo disini”. Sekali lagi Pipo berteriak menyambut panggilan Ayah. Ayah mendengar teriakan Pipo dan dengan cepat ayah terbang menuju tempat pipo bertengger.

Wajah Pipo menjadi riang demikian juga ayah,. Alhamdulillah, kau selamat nak, kata ayah. Pipo tak mampu berkata-kata, namun hatinya sangat bahagia sekali karena masih selamat dan dapat berkumpul dengan ayah, ibu dan Pipi kembali.

Tak berapa lama ibu terbang menghampiri Pipo dan ayah, senyum ibu mengembang menyambut Pipo, Pipo mendekati ibu, dengan senyum mengembang Pipo sambil  memeluk ibu, air mata ibu dan pipo tumpah. Alhamdulillah nak kau masih selamat, ibu dan ayah sangat mencemaskanmu demikian juga Pipi, “Ibu maafkan Pipo bu, yang tak menghiraukan nasehat ibu, dan lalai sehingga Pipo tersesat. Tidak apa-apa nak, yang penting lain kali jangan pernah diulang kembali.

Akhir bertiga anak, ibu, dan ayah terbang beriringan dengan hati yang bahagia, sebab mereka dikumpulkan kembali, mereka bergegas pulang ke sarang untuk mensyukuri keselamatan Pipo bersama Pipi yang tentunya masih cemas menunggu.

Abi Saif & Salwa 11-20 07

Pipo, Pipit kecil yang tersesat (Part 1)

pipit-kecil.jpg image: gettyimages

 Oleh: Warsito Suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)

Hari menjelang sore, burung-burung bergegas menuju sarang. Angin bertiup kencang. Langit bergelayut dengan mendung yang menghitam. Petir terlihat mulai menyambar disertai kilat yang menyambar-nyambar.

Sayup terdengar teriakan, ” Ibu dimana kah kau ibu,

jangan kau tinggalkan aku,

ibu…..

Sementara di sebelah hutan yang lain sang ibu, burung pipit dengan hati yang semakin cemas mencari-cari Pipo, pipit kecil anaknya,

” Pipo dimanakah kamu, teriak sang ibu,

“Pipo,  ibu mencemaskanmu, dimanakah kau, nak. Panggil sang ibu sambil meneteskan air matanya.

Angin semakin kencang meniup ranting-ranting pepohonan, menerbangkan dedaunan yang patah dari tangkainya, karena kencangnya angin menerpanya. Pipo masih terus berteriak memanggil ibunya.

Ibu, apakah kau dengar suaraku, teriakanku, semakin keras suaranya, namun tiupan angin mengalahkan suaranya yang semakin sengau dan kelelahan.

Kepak-kepak sayapnya yang lemah tak kuasa lagi melawan angin yang semakin kencang meniup, tapi dengan gigih Pipo melawannya dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, namun tubuh kecilnya terhempas dan jatuh ke tanah. Pipo menangis, mengaduh kesakitan.

Air mata Ibu Pipit, mengalir dengan pandangan yang terbatas karena hari semakin gelap, angin yang bertiup semakin membatasi gerakannya untuk terus mencari Pipo. Jarak sarang yang masih jauh memaksanya ibu Pipit untuk segera pulang ke sarang. Si Pipi kecil pasti berharap cemas menunggu kedatangan Ibu dan ayah yang meninggalkannya sendiri.

Ibu Pipit, menangis sambil sekali-kali memanggil Pipo, “Pipo, dimanakah kau nak”, Pipo dimanakah kau nak.

Sementara langit semakin gelap, gerimis semakin deras, ibu Pipit dengan cepat terbang menerobos gerimis yang menjadi hujan yang semakin lebat. Ia tak bisa meninggalkan Pipi di sarang dengan hujan sederas ini.

Sampai Ibu Pipit ke dalam sarang, terlihat wajah Pipi yang cemas, demikian juga ayah yang nampak sedih mengkhawatirkan kondisi Ibu dan Pipo.

Ibu….., teriak Pipi, sambil memeluk dan menangis menyambut Ibu Pipit yang kelelahan dan basah oleh hujan. Ayahpun mendekapi ibu, ” dimana Pipo, ibu”, Tanya ayah dengan khawatir, demikian dengan Pipi, “di mana kak Pipo ibu”, Ibu Pipit menenang diri, kemudian menatap Ayah dan Pipi, sambil menghela nafas, ibu menceritakan kejadian yang di alaminya dengan Pipo, tampak ayah sedikit murung, sambil menghibur ibu, ” Bu, semua telah terjadi, kita tidak perlu menyalahkan siapapun, yang penting tenangkan diri, kita pasrahkan semoga Allah menjaga keselamatan Pipo. 

Hari makin gelap di dasar hutan yang lembab dan basah. Pipo  merintih kesakitan, punggungnya membentur tanah. Sementara air hujan sudah mulai membasahi tanah, tubuh Pipo semakin kuyup. Namun hati Pipo tetap teguh, dia rentangkan sayap-sayapnya yang masih lemah, dikepak-kepakkan sekuat tenaga untuk terbang kembali, namun sayap basahnya membuat tak berkembang, ditambah dengan guyuran air hujan yang deras membuat usaha Pipo sia-sia belaka.

Air di dasar hutan makin menggenang, dengan cepat membentuk aliran-aliran air yang semakin besar, Pipo kaget karena tubuhnya terseret aliran air yang semakin deras. Pipo  menghindar, dengan sisa tenaganya ia berlari mencari tempat yang tinggi agar aman tak terbawa air, dengan terengah-engah, Pipo akhirnya menemukan pokok pohon yang mati, karena batangnya ditebang.

Dengan kakinya yang lemah dan sayap basah, Pipo mengambil ancang-ancang, satu-dua-tiga  huppp, Pipo  meloncat dibantu dengan sayapnya yang basah, “Gubrak” Pipo limbuh dan jatuh. Sementara air telah mencapai tanah di sekitar pokok pohon yang diincar Pipo, Pipo mulai panik, namun hatinya terus menyemangati, jangan panik, jangan takut, kamu harus bisa, dan pasti bisa. Dicobanya sekali lagi, hup, namun tubuhnya kembali menghantam pokok pohon. Air semakin menggenang, dan mulai membuat aliran.

Kupu-kupu untuk Rani

warsito suwadi  reach me on sitosuwadi@yahoo.com

s_butterfly-kecil.jpg   Rani kaget sekali, hatinya sangat marah, takut dan kesal. Tanaman Sri Rejeki yang ada di teras adalah tanaman kesayangan Kakek. Rani diberi tugas kakek untuk menyiramnya tiap sore, agar tumbuh sehat dan indah. Namun sore ini daun tanaman itu rusak.

“pasti ini kerjaan anak-anak nakal itu”.

Rani mencoba melihat lebih seksama pada daun yang rusak itu. Ia merasa aneh, sebab daun tersebut membentuk bulatan yang rapi, tidak ada bekas disobek atau digunting. “sungguh aneh” gumam Rani.

Rani bergegas untuk menyampaikan pada  Kakek.

“Kakek, kakek……”. Rani memanggil kakek yang sedang menikmati teh hangatnya di ruang keluarga.

” Ya sayang ada apa?”,

“Kakek marah enggak pada Rani”.

“Kalau Rani tidak salah tentu kakek tidak akan menegur bahkan memarahimu”.

Sambil mengelus rambut Rani yang hitam dan tebal.

“Ayo katakan ada apa sayang..”

Sambil merajuk, “Kakek tanaman kesayangan kakek yang  di teras, daunnya rusak”.

“Tanaman yang mana sayang”, dengan nada yang tak selembut tadi, membuat Rani sedikit ketakutan.

“Tanaman Sri….Rejeki yang berwarna merah kesayangan Kakek”.

Wajah kakek semakin tegang dengan senyum yang dipaksakan, supaya Rani tidak semakin ketakutan.

“Rani, kakek senang sekali kau mau, menceritakan apa yang terjadi pada tanaman Kakek, kamu tak perlu takut seperti itu”. Sejenak wajah Rani yang ketakutan berangsur menjadi tenang.

“Ayo kita lihat, seperti apa rusaknya”. Bergegas kakek dan cucu itu menuju ke teras. Sesampainya di teras, kakek mendekati tanaman Sri rejeki. Kakek tersenyum, tampak sekali senyumannya tulus penuh kasih sayang pada cucunya.

Hati Rani riang namun bercampur heran.”Kek, jadi kakek tidak marah sri rejekinya rusak, sobek seperti itu.

Masih sambil tersenyum kakek menggelengkan kepala.

Rani heran, mendesak kakek untuk mengatakan alasannya.  “Memang kenapa kek, kakek tidak  marah, namun malah tersenyum”

Kakek menatap Rani, “Rani kenapa kakek tidak marah karena yang membuat sobek daun ini adalah  ulat, tidakkah kau perhatikan di balik daun itu ada makhluk Allah yang sedang bersembunyi berwarna hijau kemerahan, hampir sewarna dengan warna daun.

Kakek membalik  sisa daun yang rusak kepada Rani, seketika Rani menjerit ketakutan. “Kakek……,   Rani takut..”. Sambil menghindar Rani menjauh dari kakeknya.

Kakek membalik lagi daun itu, sambil  menghela nafas dan memaklumi ketakutan cucunya. “Sebenarnya tak ada yang ditakuti atau jijik pada makhluk ciptaan Allah ini Rani”.

Dari wajah pias ketakutan Rani, seketika Rani berteriak “Matikan saja ulat itu Kek, Rani takut sekali, dan bukankah ulat itu melahap daun tanaman kesayangan kakek”.

Kakek menatap Rani dengan senyum sejuknya, berlahan urat-urat ketakutan Rani mulai mengendur dari wajah. Kakek mengelus kepala Rani dengan rambut tebal dan hitam. “Cucuku, kakek tak akan menyakiti ulat ini”.

“Memangnya kenapa kek, bukannya ulat tersebut telah merugikan kita kek, telah merugikan kakek karena memakan daun sri rejeki yang mahal harganya”.

Senyum kakek masih tersungging, “Rani cucuku, maukah kakek ceritakan tentang si ulat itu. Pasti kamu akan tertarik. Rani, walau ulat itu binatang yang menjijikkan bagi sebagai orang tapi ada banyak pelajaran menarik yang bisa diambil darinya”.

Kakek mulai menerawang, seolah sedang merangkai dan mengurutkan cerita, agar Rani dengan mudah mengerti dan menyenangi ceritanya.

Rani, ulat lahir dari telur, yang diletakkan oleh ibunya pada dedaunan yang telah dipilih. Kata sang ibu “Anakku, dengan seijin Allah aku letakkan kau di daun ini semoga, kau akan menjadi ulat yang sehat, gemuk dan besar”.

Sang ibu meletakkan telur itu di daun. Telur itu menempel kuat di daun tersebut. Sekali lagi sang ibu memandang telur, sambil bergumam, “Bukannya aku tak sayang padamu nak, namun kau harus melalui cara seperti ini, sesungguhnya aku tak tega, namun harus seperti itu jalan yang mesti kau tempuh.

Sang Ibu mengepakkan sayapnya, ternyata ia adalah kupu-kupu yang eloh rupa. Tampak warna biru mengkilat menghiasi kedua sayapnya, berkilauan diterpa sinar matahari. Kepakan sayapnya sangat anggun.

Rani, sang ibu kembali terbang untuk mencari makan, hinggap di bunga-bunga yang mekar untuk mengisap madunya. “Tahukan kau nak, kupu tersebut sangat diharapkan oleh sang bunga.

“Memangnya kenapa, kek” tanya Rani dengan heran.

Rani ketika kupu-kupu mengisap madu  maka ia sekaligus  melakukan penyerbukan.

” penyerbukan itu apa sih kek” kejar Rani

 Rani, penyerbukan adalah cara yang harus dilalui agar bunga bisa menjadi buah. Buah itulah kemudian yang sangat  berguna untuk kehidupan dan meneruskan keturunan sang pohon.

Rani terlihat mengangguk dengan sedikit tanda tanya yang tak terselesaikan.

Rani Setelah 8 hari, telur yang ditinggal sang kupu-kupu akhirnya menetas menjadi ulat kecil. Kupi namanya. dengan sigap Kupi mulai mengunyah daun tempat ia di lahirkan.

 Sedikit demi sedikit Kupi kunyah daunnya tanpa ada jeda. Seolah diburu oleh waktu. “Kupi harus banyak makan, agar Kupi cepat besar”, demikian kata Kupi ketika Capi si Capung menanyakan dengan keheranan, “Kenapa Kupi sangat pandai makannya”. “Kupi ingin cepat besar, Kupi harus makan yang banyak biar tidak sakit, Kupi sangat suka makan sayuran, sehingga Kupi Kuat”. Demikian jawaban Kupi selanjutnya.

Kupi, tumbuh menjadi ulat yang gemuk dan besar, kulitnya mengkilat karena sehat. Ini adalah minggu ketiga semenjak Kupi menetas dari telur. Daun tempat kupi lahir sekarang tinggal tulang daunnya saja, demikian daun yang di sebelahnya, ada empat daun yang telah dilahap Kupi.

Kupi harus pintar-pintar menjaga diri sekarang, dengan  tubuhnya yang gemuk pasti akan mengundang hewan pemangsa serangga yang akan mengincarnya, demikian burung-burung akan sangat menyukai kelezatan tubuh Kupi.
Kupi selalu bersembunyi di bagian bawah daun yang dilahapnya, dan juga dengan berkamuflase,  melalui warna tubuhnya yang sewarna dengan daun. Oh kamuflase adalah cara menyamar dengan menyamakan diri dengan warna lingkungan sekitar, sehingga pemangsa akan kesulitan untuk memangsa.

Setelah empat minggu Kupi bekerja tidak kenal henti dari pagi sampai matahari tenggelam, hingga hampir semua daun dalam pot meranggas. Kupi berhenti sama sekali diam, seperti pertapa. Dari mulutnya keluar benang-benag halus yang lambat laun membungkus seluruh badannya, yah kupi dibungkus dalam kepompong.

Kupi berpuasa selama tiga minggu. Kupi  dalam kepompong tanpa makan maupun minum. Kupi terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Alhamdulillah, puasa Kupi telah sampai di minggu terakhir. Kupi keluar dari kepompong yang membelenggunya. Berlahan keluar, dan sungguh luar biasa Kupi terlihat lain, sama sekali bukan ulat yang menjijikkan. Kupi telah menjadi seekor kupu-kupu.

Setelah seluruh tubuh Kupi keluar dari kepompong, terlihat tubuh yang masih lemah. Kupi merentangkan kedua sayapnya yang masih lemah dan basah, berlahan dengan ditimpa sinar matahari sayap-sayap kupi menjadi kuat.

Setelah beberapa jam Kupi diam sambil merentangkan sayapnya, ia telah menjadi kupu-kupu yang siap terbang.

Kupi  menjadi kupu-kupu yang indah sekali warnanya. Semua mata takjub melihatnya.

Rani sekarang mengerti mengapa Kakek tidak membunuh ulat yang  merusak tanaman kesayangannya.

Kakek mengecup dahi Rani. “semoga kau banyak mendapat pelajaran dari Kupi nak”.

Tes

tes dulu yaa

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!