Ketika Mencintai Tanpa Syarat
31 Okt 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in didik anak Tag:anak cerdas, anak sholeh, cara mendidik anak, cerita anakanak istimewa, parenting

Setiap makhluk hidup dianugerahi perasaan cinta dan kemudian akan dicintai juga. Cinta mampu mewarnai dunia ini sehingga generasi manusia bertumbuh dan lestari. Anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi pengganti yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan cinta dunia menjadi lebih berwarna.
Cinta adalah energy yang menggerakkan kemajuan, berkorban, ketabahan bahkan keuletan. Apa yang menggerakkan seekor induk burung kenari yang mengerami empat butir telor di sarang selama kurang lebih 21 hari. Kemudian anak-anak mungil kenari menetas menjadi 4 bayi kenari yang imut sekaligus ringkih.
Sang bunda kenari, bangun di pagi yang buta, sudah berpayah mengupas biji-bijian, dedaunan dan makanan lainnya untuk disuap buat empat bayi mungil yang mulutnya tidak pernah berhenti bercericit, mulut yang terus terbuka walaupun matanya masih tertutup. Rutinitas tanpa lelah, tanpa henti dari pagi sampai petang, coba kita bayangkan betapa repotnya sang bunda kenari.
Kenari kecil yang baik hati tanpa lelah merawat anak-anaknya sampai dewasa, adakah keluhan dengan segala kekurangan sang anak-anak, tampaknya tidak pernah, karena ia mencintai anak-anaknya apa adanya, ditumpahkan semua usaha dan kasih sayang kepada anak anaknya.
Cinta tanpa syarat kita terhadap anak-anak mungil buah hati akan membuat kita tak pernah mensyaratkan, namun semangat menjaga amanah, mendidik dan segalanya dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah ada kecewa dengan kondisi anak kita, yang mungkin belum berprestasi secara akademis misalnya, atau kekurangan lainnya yang membuat kita kadang merasa minder, “kok anakku sebegininya sih”.
Anak adalah kertas putih yang akan menjadi apa saja, baik dan buruk. Tugas orang tua untuk memberi warna-warna terbaik sehingga kertas tersebut menjadi lukisan mahakarya yang tak ternilai harganya.
Proses mendidik, mengasuh anak adalah sebuah proses panjang, jangan pernah menyerah dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada anak-anak kita, justru kekurangan itu adalah tantangan kita untuk terus belajar, menemukan pola asuh yang sesuai dengan anak kita. Karena sesungguhnya anak kita adalah anugerah terindah dan teristimewa. Jadi jangan ada syarat untuk cinta kita pada buah hati tercinta.( Warsito Suwadi)
Pipo, Pipit Kecil yang tersesat 3
12 Jan 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in didik anak, Dongeng Hikmah Tag:akhlak mulia, anak cerdas, dongeng anak, dongeng motivasi, dongeng sehat, emotional, mendidik, tumbuh kembang
by Warsito Suwadi
Semalaman Pipo terjebak di dalam hutan yang gelap dan dingin. Tanpa di temani Pipi, ayah dan ibu tercinta. Pipo diliputi dengan ketakutan dan kedinginan. Pipo tak dapat tidur sekejappun, ia hanya mampu berdoa semoga malam cepat menjadi pagi, agar ibu dan ayah dapat menemukannya kembali. Pipo berdoa pada Allah agar ia selamat dari segala binatang buas yang mencari makan di malam ini. More
Aku adalah Rumput
13 Nov 2009 2 Komentar

Menjadi rumput di keluasan padang yang menghampar. Dengan hijaunya dan tebaran hewan-hewan yang merumput untuk memenuhi hajat kehidupan. Di atasmu mereka berbiak, bergembira, mencari makan dan mereka mengotorimu. Menginjak-injak dan kemudian meninggalkanmu ketika kau sudah tak subur, kering bahkan sekarat mendekati kematian. More
Marahi dia dengan kasih sayang
24 Mar 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in didik anak
Memarahi anak?
Mau tak mau dalam waktu tertentu harus kita lakukan, namun setiap ada perselisihan dan ketidakcocokan prilaku anak tidak harus diselesaikan dengan memarahinya. Biasakan bernegosiasi dengan anak, agar kelak anak mempunyai kemampuan yang baik dalam bernegosiasi, yang tentunya akan sangat berguna kelak dewasa nanti. More
Biji Sawi dan Niat Kita
04 Mar 2009 1 Komentar
Pagi yang indah, langit cerah, hembusan angin meniup lembut dedaunan. Bergegas semua makhluk hidup menyambutnya. Di pagi itu sebiji sawi menggeliat, bergerak menembus tanah hitam yang yang menutupinya beberapa hari. More
Pipo, Pipit kecil yang tersesat (Part 2)
04 Feb 2008 Tinggalkan sebuah Komentar
in didik anak, Uncategorized Tag:dongeng anak, dongeng inspirasi, dongeng motivasi, dongeng usia dini, kesetian orang tua, pendidikan akhlak
Oleh: Warsito Suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)
Sesampainya Ibu Pipit ke dalam sarang, terlihat wajah Pipi yang cemas, demikian juga ayah yang nampak sedih mengkhawatirkan kondisi Ibu dan Pipo.
Ibu….., teriak Pipi, sambil memeluk, Pipi menangis menyambut Ibu Pipit yang kelelahan dan basah kuyup oleh hujan. Ayahpun mendekapi ibu,
“ di mana Pipo, ibu”, Tanya ayah dengan khawatir,
Demikian dengan Pipi, “di mana kak Pipo ibu”,
Ibu Pipit menenangkan diri, baru kemudian menatap Ayah dan Pipi. More
Pipo, Pipit kecil yang tersesat (Part 1)
01 Feb 2008 Tinggalkan sebuah Komentar
in didik anak, Dongeng Hikmah Tag:cerita membangun anak, cerpen akhlak, dongen anak, dongeng inspirasi, dongeng motivasi, kepatuhan anak, membangun mental anak, mentalitas anak, tauladan anak
Oleh: Warsito Suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)
Hari menjelang sore, burung-burung bergegas menuju sarang. Angin bertiup kencang. Langit bergelayut dengan mendung yang menghitam. Petir bersautan disertai kilat yang menyambar-nyambar.
Sayup terdengar teriakan, “ Ibu dimana kah kau ibu!!!!!
jangan kau tinggalkan aku,
ibu….. More
Kupu-kupu untuk Rani
04 Jan 2008 Tinggalkan sebuah Komentar
warsito suwadi reach me on sitosuwadi@yahoo.com
Rani kaget sekali, hatinya sangat marah, takut dan kesal. Tanaman Sri Rejeki yang ada di teras adalah tanaman kesayangan Kakek. Rani diberi tugas kakek untuk menyiramnya tiap sore, agar tumbuh sehat dan indah. Namun sore ini daun tanaman itu rusak.
“pasti ini kerjaan anak-anak nakal itu”.
Rani mencoba melihat lebih seksama pada daun yang rusak itu. Ia merasa aneh, sebab daun tersebut membentuk bulatan yang rapi, tidak ada bekas disobek atau digunting. “sungguh aneh” gumam Rani.
Rani bergegas untuk menyampaikan pada Kakek.
“Kakek, kakek……”. Rani memanggil kakek yang sedang menikmati teh hangatnya di ruang keluarga.
” Ya sayang ada apa?”,
“Kakek marah enggak pada Rani”.
“Kalau Rani tidak salah tentu kakek tidak akan menegur bahkan memarahimu”.
Sambil mengelus rambut Rani yang hitam dan tebal.
“Ayo katakan ada apa sayang..”
Sambil merajuk, “Kakek tanaman kesayangan kakek yang di teras, daunnya rusak”.
“Tanaman yang mana sayang”, dengan nada yang tak selembut tadi, membuat Rani sedikit ketakutan.
“Tanaman Sri….Rejeki yang berwarna merah kesayangan Kakek”.
Wajah kakek semakin tegang dengan senyum yang dipaksakan, supaya Rani tidak semakin ketakutan.
“Rani, kakek senang sekali kau mau, menceritakan apa yang terjadi pada tanaman Kakek, kamu tak perlu takut seperti itu”. Sejenak wajah Rani yang ketakutan berangsur menjadi tenang.
“Ayo kita lihat, seperti apa rusaknya”. Bergegas kakek dan cucu itu menuju ke teras. Sesampainya di teras, kakek mendekati tanaman Sri rejeki. Kakek tersenyum, tampak sekali senyumannya tulus penuh kasih sayang pada cucunya.
Hati Rani riang namun bercampur heran.”Kek, jadi kakek tidak marah sri rejekinya rusak, sobek seperti itu.
Masih sambil tersenyum kakek menggelengkan kepala.
Rani heran, mendesak kakek untuk mengatakan alasannya. “Memang kenapa kek, kakek tidak marah, namun malah tersenyum”
Kakek menatap Rani, “Rani kenapa kakek tidak marah karena yang membuat sobek daun ini adalah ulat, tidakkah kau perhatikan di balik daun itu ada makhluk Allah yang sedang bersembunyi berwarna hijau kemerahan, hampir sewarna dengan warna daun.
Kakek membalik sisa daun yang rusak kepada Rani, seketika Rani menjerit ketakutan. “Kakek……, Rani takut..”. Sambil menghindar Rani menjauh dari kakeknya.
Kakek membalik lagi daun itu, sambil menghela nafas dan memaklumi ketakutan cucunya. “Sebenarnya tak ada yang ditakuti atau jijik pada makhluk ciptaan Allah ini Rani”.
Dari wajah pias ketakutan Rani, seketika Rani berteriak “Matikan saja ulat itu Kek, Rani takut sekali, dan bukankah ulat itu melahap daun tanaman kesayangan kakek”.
Kakek menatap Rani dengan senyum sejuknya, berlahan urat-urat ketakutan Rani mulai mengendur dari wajah. Kakek mengelus kepala Rani dengan rambut tebal dan hitam. “Cucuku, kakek tak akan menyakiti ulat ini”.
“Memangnya kenapa kek, bukannya ulat tersebut telah merugikan kita kek, telah merugikan kakek karena memakan daun sri rejeki yang mahal harganya”.
Senyum kakek masih tersungging, “Rani cucuku, maukah kakek ceritakan tentang si ulat itu. Pasti kamu akan tertarik. Rani, walau ulat itu binatang yang menjijikkan bagi sebagai orang tapi ada banyak pelajaran menarik yang bisa diambil darinya”.
Kakek mulai menerawang, seolah sedang merangkai dan mengurutkan cerita, agar Rani dengan mudah mengerti dan menyenangi ceritanya.
Rani, ulat lahir dari telur, yang diletakkan oleh ibunya pada dedaunan yang telah dipilih. Kata sang ibu “Anakku, dengan seijin Allah aku letakkan kau di daun ini semoga, kau akan menjadi ulat yang sehat, gemuk dan besar”.
Sang ibu meletakkan telur itu di daun. Telur itu menempel kuat di daun tersebut. Sekali lagi sang ibu memandang telur, sambil bergumam, “Bukannya aku tak sayang padamu nak, namun kau harus melalui cara seperti ini, sesungguhnya aku tak tega, namun harus seperti itu jalan yang mesti kau tempuh.
Sang Ibu mengepakkan sayapnya, ternyata ia adalah kupu-kupu yang eloh rupa. Tampak warna biru mengkilat menghiasi kedua sayapnya, berkilauan diterpa sinar matahari. Kepakan sayapnya sangat anggun.
Rani, sang ibu kembali terbang untuk mencari makan, hinggap di bunga-bunga yang mekar untuk mengisap madunya. “Tahukan kau nak, kupu tersebut sangat diharapkan oleh sang bunga.
“Memangnya kenapa, kek” tanya Rani dengan heran.
Rani ketika kupu-kupu mengisap madu maka ia sekaligus melakukan penyerbukan.
” penyerbukan itu apa sih kek” kejar Rani
Rani, penyerbukan adalah cara yang harus dilalui agar bunga bisa menjadi buah. Buah itulah kemudian yang sangat berguna untuk kehidupan dan meneruskan keturunan sang pohon.
Rani terlihat mengangguk dengan sedikit tanda tanya yang tak terselesaikan.
Rani Setelah 8 hari, telur yang ditinggal sang kupu-kupu akhirnya menetas menjadi ulat kecil. Kupi namanya. dengan sigap Kupi mulai mengunyah daun tempat ia di lahirkan.
Sedikit demi sedikit Kupi kunyah daunnya tanpa ada jeda. Seolah diburu oleh waktu. “Kupi harus banyak makan, agar Kupi cepat besar”, demikian kata Kupi ketika Capi si Capung menanyakan dengan keheranan, “Kenapa Kupi sangat pandai makannya”. “Kupi ingin cepat besar, Kupi harus makan yang banyak biar tidak sakit, Kupi sangat suka makan sayuran, sehingga Kupi Kuat”. Demikian jawaban Kupi selanjutnya.
Kupi, tumbuh menjadi ulat yang gemuk dan besar, kulitnya mengkilat karena sehat. Ini adalah minggu ketiga semenjak Kupi menetas dari telur. Daun tempat kupi lahir sekarang tinggal tulang daunnya saja, demikian daun yang di sebelahnya, ada empat daun yang telah dilahap Kupi.
Kupi harus pintar-pintar menjaga diri sekarang, dengan tubuhnya yang gemuk pasti akan mengundang hewan pemangsa serangga yang akan mengincarnya, demikian burung-burung akan sangat menyukai kelezatan tubuh Kupi.
Kupi selalu bersembunyi di bagian bawah daun yang dilahapnya, dan juga dengan berkamuflase, melalui warna tubuhnya yang sewarna dengan daun. Oh kamuflase adalah cara menyamar dengan menyamakan diri dengan warna lingkungan sekitar, sehingga pemangsa akan kesulitan untuk memangsa.
Setelah empat minggu Kupi bekerja tidak kenal henti dari pagi sampai matahari tenggelam, hingga hampir semua daun dalam pot meranggas. Kupi berhenti sama sekali diam, seperti pertapa. Dari mulutnya keluar benang-benag halus yang lambat laun membungkus seluruh badannya, yah kupi dibungkus dalam kepompong.
Kupi berpuasa selama tiga minggu. Kupi dalam kepompong tanpa makan maupun minum. Kupi terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.
Alhamdulillah, puasa Kupi telah sampai di minggu terakhir. Kupi keluar dari kepompong yang membelenggunya. Berlahan keluar, dan sungguh luar biasa Kupi terlihat lain, sama sekali bukan ulat yang menjijikkan. Kupi telah menjadi seekor kupu-kupu.
Setelah seluruh tubuh Kupi keluar dari kepompong, terlihat tubuh yang masih lemah. Kupi merentangkan kedua sayapnya yang masih lemah dan basah, berlahan dengan ditimpa sinar matahari sayap-sayap kupi menjadi kuat.
Setelah beberapa jam Kupi diam sambil merentangkan sayapnya, ia telah menjadi kupu-kupu yang siap terbang.
Kupi menjadi kupu-kupu yang indah sekali warnanya. Semua mata takjub melihatnya.
Rani sekarang mengerti mengapa Kakek tidak membunuh ulat yang merusak tanaman kesayangannya.
Kakek mengecup dahi Rani. “semoga kau banyak mendapat pelajaran dari Kupi nak”.


